LINGKUNGAN DAN SOSIAL JADI FOKUS UTAMA ALSINTAN ICARE DI ENREKANG
Enrekang, 22 September 2025 — Dalam rangka persiapan penyaluran alat mesin pertanian (alsintan) untuk Brigade Pangan di kawasan Optimasi Lahan Pertanian (OPLAH), Tim ESF (Environmental and Social Framework) PIU Sulawesi Selatan berkoordinasi dengan Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Perkebunan Kabupaten Enrekang guna memastikan kepatuhan terhadap prinsip-prinsip lingkungan dan sosial.
Tim Safeguard ESF mengajukan empat klarifikasi: kesesuaian lokasi OPLAH dengan zonasi hutan, keberlanjutan sumber air irigasi, potensi dampak terhadap ekosistem, serta transparansi dan kapasitas dalam pembentukan Brigade Pangan.
Plt. Kepala Dinas, Dr. Muhammad Ikbar Ashadi, menegaskan bahwa seluruh lokasi OPLAH berada di luar kawasan hutan dan merupakan Lahan Baku Sawah (LBS) yang telah diverifikasi melalui Survei Investigasi Desain (SID) Universitas Hasanuddin. Sumber air irigasi berasal dari sungai dan air tanah, dialirkan melalui sistem perpipaan buka-tutup dan pompa.
Untuk memperkuat keberlanjutan, Dinas mengusulkan pelatihan pra-penyerahan alsintan yang mencakup operasional alat, manajemen lahan, prinsip keadilan sosial, dan dasar bisnis pertanian. “Alsintan bukan sekadar diserahkan, tapi harus dikelola dengan kapasitas memadai,” tegas Ikbar.
Sebagai ujung tombak mekanisme GRM, delapan penyuluh pertanian ditugaskan di lokasi OPLAH, termasuk dua penyuluh sebagai pendamping khusus yang telah di-SK-kan oleh BBPSDMP, dengan koordinasi dari satu Koordinator Penyuluh Kabupaten dan tiga Koordinator BPP di Kecamatan Maiwa, Cendana, dan Enrekang.
Sebagai tindak lanjut, kedua pihak sepakat untuk memperkuat saluran GRM, memfasilitasi mediasi skema bagi hasil yang adil bagi petani penggarap, serta mengintegrasikan indikator sosial-lingkungan ke dalam pelaksanaan kegiatan.
“Kami berkomitmen agar bantuan alsintan tidak hanya meningkatkan produksi, tapi juga memperkuat keadilan, keberlanjutan, dan kepatuhan lingkungan,” pungkas Ikbar.
Dengan pendekatan proaktif ini, Enrekang menunjukkan kesiapan menjadi model implementasi pertanian berbasis ESF, di mana produktivitas, kelestarian alam, dan keadilan sosial berjalan beriringan.
(DAR)